DUALITAS MAKNA DAN FUNGSI MUSIKAL “SUNDING WUNI” DALAM UPACARA ADAT MASYARAKAT ETNIS RIUNG KABUPATEN NGADA
DOI:
https://doi.org/10.38048/jcm.v1i8.7381Keywords:
Dualitas Makna, Etnis Riung, Musik Tradisional, Sunding Wuni, Upacara AdatAbstract
Penelitian ini bertujuan mengkaji dualitas makna dan fungsi musikal Sunding Wuni, instrumen suling ganda yang hidup dalam tradisi masyarakat etnis Riung di Kabupaten Ngada. Keunikan instrumen ini terletak pada penggunaannya dalam dua konteks ritual dengan suasana emosional yang berbeda, yaitu kedukaan dan perayaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, pemangku ritual, dan musisi tradisional, observasi partisipatif, dokumentasi audio, serta studi pustaka. Data dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, penafsiran kontekstual terhadap karakter musikal, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Sunding Wuni mengalami perubahan karakter musikal sesuai dengan konteks ritual. Pada suasana kedukaan, instrumen ini dimainkan dengan tempo yang lebih lambat, tekanan tiupan yang relatif tertahan, dan ornamentasi yang lebih terbatas, sedangkan pada konteks perayaan pola permainan cenderung lebih dinamis dan disertai ornamentasi yang lebih beragam. Perbedaan tersebut dimaknai masyarakat sebagai bentuk ekspresi duka dan penghormatan pada konteks kematian, serta sebagai ekspresi syukur dan kebersamaan pada konteks perayaan. Temuan menunjukkan bahwa makna Sunding Wuni tidak hanya ditentukan oleh bentuk instrumennya, tetapi juga oleh cara permainan, situasi ritual, dan pemaknaan sosial masyarakat pendukungnya. Dalam kedua konteks tersebut, Sunding Wuni berperan sebagai medium ekspresi musikal sekaligus bagian dari praktik kebersamaan komunal masyarakat Riung.
References
Bonanzinga, S. (2017). Musical mourning rituals in Sicily (G. Valentini, Trans.). Ethnomusicology Translations, (5). https://doi.org/10.14434/emt.v0i5.23159
Clayton, M. (2015). The social and personal functions of music in cross-cultural perspective. In S. Hallam, I. Cross, & M. Thaut (Eds.), The Oxford handbook of music psychology (2nd ed., pp. 47–60). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780198722946.013.8
Crossley, N. (2020). Connecting sounds: The social life of music. Manchester University Press.
Curran, G., & Radhakrishnan, M. (2021). The value of ethnographic research on music: An introduction. The Asia Pacific Journal of Anthropology, 22(2–3), 101–118. https://doi.org/10.1080/14442213.2021.1913511
Falk, C. (2003). “If you have good knowledge, close it well tight”: Concealed and framed meaning in the funeral music of the Hmong qeej. British Journal of Ethnomusicology, 12(2), 1–33. https://doi.org/10.1080/09681220308567361
Feld, S. (1984). Sound structure as social structure. Ethnomusicology, 28(3), 383–409. https://doi.org/10.2307/851232
Fikri, K., Samino, S. R. I., & Setyawan, D. (2026). Peta pedagogis pembelajaran musik kreatif di perguruan tinggi. Jurnal Citra Multidisiplin, 1(5), 577–593. https://doi.org/10.38048/jcm.v1i5.6992
George, K. M. (1993). Music-making, ritual, and gender in a Southeast Asian hill society. Ethnomusicology, 37(1), 1–27. https://doi.org/10.2307/852242
Hamdan, S., Rahman, M. R., Zainal Abidin, A. S., & Musib, A. F. (2022). Study on vibro-acoustic characteristics of bamboo-based Angklung instrument. BioResources, 17(1), 1670–1679. https://doi.org/10.15376/biores.17.1.1670-1679
Hammersley, M., & Atkinson, P. (2019). Ethnography: Principles in practice (4th ed.). Routledge.
Kojaing, K., Kian, M., & Elu, A. R. A. (2023). Makna psikologis musik Gong Waning dalam ritual adat kematian masyarakat Hewokloang Kabupaten Sikka. Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi, 23(1), 93–102. https://doi.org/10.33153/keteg.v23i1.5083
Kyker, J. W. (2021). Outside the house, there are no laws: Musical practice and ritual dynamics at Shona kurova guva ceremonies. Ethnomusicology Forum, 30(3), 422–442. https://doi.org/10.1080/17411912.2021.2008264
Palimbong, A. M., Fitriasari, R. P. D., & Haryono, T. (2022). Makna pertunjukan Ma’ Marakka dalam upacara Rambu Solo’ masyarakat Toraja. Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik, 5(2), 134–141. https://doi.org/10.26740/vt.v5n2.p134-141
Ria, F. X., Selo, M. K., Dhiu, M. A., Naru, D. M., Sae, F. N., & Lawe, Y. U. (2022). Penerapan alat musik tradisional Sunding Wuni dalam pembelajaran di sekolah dasar. Jurnal Citra Pendidikan, 2(4), 160–164. https://doi.org/10.38048/jcp.v2i4.937
Setyawan, D., Bupu, H., Samino, S. R. I., Dopo, F. B., & Fikri, K. (2026). Visibility paradox in digital representation of traditional Foi Doa music: Paradoks visibilitas dalam representasi digital musik tradisional Foi Doa. GETER: Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik, 9(1), 16–25. https://doi.org/10.26740/geter.v9n1.p16-25
Turino, T. (2008). Music as social life: The politics of participation. University of Chicago Press.
van der Merwe, L., & Morelli, J. (2022). Explaining how community music engagement facilitates social cohesion through ritualised belonging. Religions, 13(12), 1170. https://doi.org/10.3390/rel13121170