KONSTRUKSI RELASI MENANTU WNI DAN MERTUA WNA DALAM KANAL YOUTUBE KELUARGA BAHAGIA DI JERMAN: ANALISIS WACANA VAN DIJK

Authors

  • Jasmine Alya Pramesthi Telkom University

DOI:

https://doi.org/10.38048/jcm.v1i7.7323

Keywords:

Analisis Wacana, Budaya, Van Dijk

Abstract

Pernikahan multikultural membentuk kebiasaan individu yang berbeda dengan kebiasaan yang telah terbentuk sebelumnya. Sepasang suami istri tidak hanya berupaya dalam menyatukan dua kepala saja, dimana seorang pasangan suami istri perlu adanya proses adaptasi dengan mertua. Pengalaman yang dibagikan oleh pemilik YouTube channel Keluarga Bahagia di Jerman dengan judul video “NASIB PUNYA MERTUA BULE | BEGINI RASANYA JADI MENANTU ORANG JERMAN”. Dalam menjelaskan bagaimana gambaran hubungan menantu WNI dengan mertua WNA, peneliti melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif jenis analisis wacana melalui model analitik Van Dijk. Berdasarkan pada teksnya, dijelaskan bahwa tema yang hendak dibawakan oleh Trisna sebagai pembicara ialah pengalaman sebagai menantu warga negara Jerman yang disampaikan melalui skematik yakni adanya pendahuluan, badan narasi, hingga penutup. Kemudian penekanan dilakukan bahwa pembicara tidak memiliki intensi buruk dalam menyudutkan budaya yang berkembang di Indonesia mengenai mertua dan menantu. Pengetahuan yang dibawakan oleh pembicara mengenai budaya yang berkembang di Indonesia dan Jerman. Informasi-informasi mengenai pengetahuannya disampaikan sebagai fondasi dari narasi mengenai perbedaan budaya keduanya yang. Kemudian pengetahuan yang dimiliki pembicara didukung oleh opini dan sikap dari pembicara. Sedangkan pada dimensi konteks sosial, narasi didasarkan oleh perbedaan budaya antara Indonesia dan Jerman yang mengatur hubungan antara mertua dan menantu yang pembicara anggap bahwa hubungan mertua dan menantu di Jerman tidak adanya kecanggungan seperti yang umum ditemukan di Indonesia. Dalam menyusun studi berikutnya, peneliti menyarankan untuk melakukan studi komparasi yang dapat dilakukan dengan metode fenomenologi untuk mendapatkan hasil yang lebih mendalam.

References

Agustin, A., & Tamburian, H. H. D. (2018). Komunikasi Antarpribadi Antara Mertua dan Menantu Beda Agama. Koneksi, 2(2), 210. https://doi.org/10.24912/kn.v2i2.3887

Allendorf, K. (2017). Like Her Own: Ideals and Experiences of the Mother-In-Law/Daughter-In-Law Relationship. Journal of Family Issues, 38(15), 2102–2127. https://doi.org/10.1177/0192513X15590685

Badara, A. (2012). Analisis Wacana Teori, Metode, dan Penerapanya pada Wacana Media. Kencana Prenada Media Group.

Davies, C. (2012). The English Mother-in-Law Joke and its Missing Relatives. Israeli Journal of Humor Research, 1(2), 12–39. http://ask.yahoo.com/20010209.html

Hadawiyah. (2016). Komunikasi Antarbudaya Pasangan Beda Etnis (Studi Fenomenologi Pasangan beda Etnis Suku Sulawesi - Jawa di Makassar). Jurnal Lentera Komunikasi, 2(1).

Haryono, C. G. (2017). Praktek Produksi Hegemoni Militer Melalui Film “Jenderal Soedirman.” Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 3(01), 30–42. https://doi.org/10.30813/bricolage.v3i01.844

Ibrahim, S. M., & Bambang, A. (2015). HAMBATAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA PADA ASPEK RAS (Analisis Kritis pada Kasus Indonesia – TiongHoa). Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 1(2).

Kinanti, J. A., & Hendrati, F. (2013). Hubungan Tipe Kepribadian dengan Komunikasi Interpersonal Menantu Perempuan Terhadap Ibu Mertua. Jurnal Psikologi Tabularasa, 8(2).

Lee, S. H., Balkin, R. S., & Fernandez, M. A. (2017). Asian Intercultural Marriage Couples in the United States: A Study in Acculturation and Personality Traits. Family Journal, 25(2), 164–169. https://doi.org/10.1177/1066480717697951

Oktafiani, N. L., Ramli, A. H., & Kurniawati, Y. (2015). Manajemen Konflik Pada Pasangan Suami Istri yang Menjalani Perkawinan Campuran (Studi Fenomenologi pada Pasangan Perkawinan Campuran Wanita Jawa dengan Pria Eropa). Jurnal Mitra Ekonomi Dan Manajemen Bisnis, 1–15.

Rahmawati, I. (2015). Komunikasi sebagai Motor Melihat Realitas Bersama (Kajian Shared Reality Theory). Buletin Psikologi, 23(1), 31. https://doi.org/10.22146/bpsi.10575

Rittenour, C. (2012). Daughter-in-law Standards for Mother-in-law Communication: Associations With Daughter-in-law Perceptions of Relational Satisfaction and Shared Family Identity. Journal of Family Communication, 12(2), 93–110. https://doi.org/10.1080/15267431.2010.537240

Rizak, M. (2018). Peran Pola Komunikasi Antarbudaya dalam Mencegah Konflik Antar Kelompok Agama. Islamic Communication Journal, 03(1), 88–104.

Santi, Y. (2015). Peran Komunikasi Interpersonal Dalam Menjaga Hubungan yang Harmonis Antara Mertua dan Menantu Perempuan. JISIP: Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 4(3), 466–472.

Shih, K. Y., & Pyke, K. (2016). Seeing Mothers-in-Law Through the Lens of the Mothering Ideology: An Interview Analysis of Taiwanese, Taiwanese American, and Mexican American Daughters-in-Law. Journal of Family Issues, 37(14), 1968–1993. https://doi.org/10.1177/0192513X15570319

Suciartini, N. N. A. (2017). Analisis Wacana Kritis “Semua Karena Ahok” Program Mata Najwa Metro Tv. Aksara, 29(2), 267. https://doi.org/10.29255/aksara.v29i2.54.267-282

Tili, T. R., & Barker, G. G. (2015). Communication in Intercultural Marriages: Managing Cultural Differences and Conflicts. Southern Communication Journal, 80(3), 189–210. https://doi.org/10.1080/1041794X.2015.1023826

Tracy, S. J. (2020). Qualitative Research Methods: Collecting Evidence, Crafting Analysis, Communicating Impact. John Wiley and Sons, Inc. http://library1.nida.ac.th/termpaper6/sd/2554/19755.pdf

Vera, N., & Wihardi, D. (2012). Jagongan Sebagai Bentuk Komunikasi Sosial pada Masyarakat Solo dan Manfaatnya Bagi Pembangunan Daerah. Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna, 2(2), 58–64.

Yudhi, L., & Sadono, P. teguh. (2018). Komodifikasi Nilai Nasionalisme Sebagai Identitas Sosial Melalui Tetralogi Stand Up Comedy Pandji Pragiwaksono. Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 4(2), 95–117.

Downloads

Published

2026-07-31